Viral Netizen Curhat Trauma

Viral Netizen Curhat Trauma Gegara ‘Di pijit’ Sampai Lebam oleh Psikiater

Viral Netizen Curhat Trauma, curhat seorang anonim di Twitter mengaku trauma datang ke psikiater. Hal ini di karenakan psikiater yang menanganinya melakukan

baca juga: Psikolog Sorot Kemungkinan Penyebab

sejumlah tindakan hingga memicu lebam di beberapa bagian tubuh. Beberapa bagian tubuh yang di maksud yakni bagian dada atas, leher, tulang belakang, hingga tulang bokong.

Saat kejadian, ia berpikir hal ini merupakan bagian dari pengobatan. Namun, saat pijatan terasa nyeri, ia sempat meminta psikiater untuk menghentikan tindakan tersebut.

“Sangking sakitnya dan terus menerus, saya bilang ‘dok, saya tidak kuat. Saya mau udahan saja,’ tapi saya tetap tidak di perbolehkan pergi.

Kemudian Saya coba bertahan,” cerita akun @user40268 di Twitter.

“Saya menangis karena kesakitan, teriak-teriak tetapi tidak ada yang mendengar karena ruangan kedap suara. Kata dokternya kalau ini sakit (sambil menekan),

berarti kamu sakit hati dan kecewa. Dan dia menekan dada atas dengan kencang. Ini titik-titik yang dia pijit,” sambung dia, sembari menggambarkan area tubuh mana saja yang ditekan.

sudah berusaha mengonfirmasi cerita yang bersangkutan kepada pemilik akun, tetapi hingga berita ini di turunkan belum ada respons lebih lanjut.

Namun, benarkah tindakan semacam itu bisa di lakukan seorang ahli jiwa dalam kasus tertentu?

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) buka suara. Ia menyebut pemeriksaan fisik memang bisa di lakukan, tetapi ada beberapa hal yang perlu di soroti.

“Saya tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya tetapi ada beberapa hal yang perlu di cermati,” kata dia saat di hubungi Jumat (26/8/2022).

“Psikiater adalah seorang dokter yang punya wewenang dan kompetensi melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk memastikan tanda dan gejala dari penyakit yang di idap.

Beberapa teknik pemeriksaan fisik yang umum di lakukan adalah inspeksi, melihat ke tubuh pasien untuk melihat ada tidaknya perubahan dan gangguan,” ungkap dr Lahargo.

“Palpitasi, menempelkan tangan ke tubuh pasien dan sedikit menekan untuk mengetahui ada tidaknya suatu gangguan,” lanjutnya.

Pemeriksaan fisik lainnya yakni perkusi atau mengetuk tubuh pasien untuk menganalisa apakah ada perubahan suara yang di pantulkan.

Hal ini juga untuk melihat kemungkinan adanya gangguan.

Terakhir auskultasi, dr Lahargo menjelaskan tindakan ini merupakan pemeriksaan yang di lakukan melalui stetoskop untuk melihat perubahan bunyi di tubuh.

“Untuk tujuan terapi, seorang psikiater memegang tubuh pasien dengan di dampingi keluarga dan perawat misalnya terapi injeksi/suntikan, terapi ECT, TMS, Neurofeedback.

Setiap terapi yang di berikan oleh psikiater tujuannya untuk memulihkan kondisi pasien dan bukan untuk memperberat keadaan pasien,” pungkas dia.

baca juga: Erick Thohir Pastikan Kereta Cepat Operasi

Related Posts